Harapan seorang faqir yang memfokuskan diri dan perjalanan seorang murid yang menyendiri

” MUNYATUL FAQIRIL MUTAJARRID WA SIROTUL MURIDIL MUTAFARRID “

Karya AL IMAM SYEKH ABDUL QODIR AL KAUHANIY QS.

《 Maka isim ( nama ) bisa dikenal dengan adanya :

  1. Khofadh
  2. Tanwin
  3. Dimasuki alif dan lam ( al )
  4. ( dimasuki ) huruf² khofadh

Maka nama yang kamu selalu menyebut NYA dan kamu bergetar karena NYA adalah ALLAH jalla jalaluhu, karena bahwa nama merupakan seutuhnya Dzat yang diberi nama, ia dapat dikenal dengan khofadh ( merendah ), yaitu mengukuhkan diri dengan sifat hina dan berbagai sifat kerendahan.

Seorang penyair berkata :

Merendahlah kamu kepada Dzat yang kamu cintai, karena mencintai itu bukanlah perkara yang mudah.
Apabila telah ridho Dzat yang dicintai ( ALLAH ), maka telah sah bagimu suatu pencapaian ( kehadirat NYA ).

Dan penyair lain berkata :

Merendahlah kamu kepada orang yang kamu sukai, agar kamu beruntung dengan suatu kemuliaan, karena banyak sekali kemuliaan, sungguh seseorang telah meraihnya dengan sikap merendah.

Apabila orang yang kamu cintai itu orang yang mulia, namun kamu tidak menempatkan diri sebagai orang yang merendah kepadanya, maka ucapkanlah salam ( perpisahan ) kepada pencapaian.PM 47-48.

Dan berkata Tuan Syekh Abul Hasan RA : ” Ya ALLAH, sesungguhnya sekelompok orang telah Engkau tetapkan atas diri mereka dengan kehinaan ( dimata manusia ), sehingga mereka menjadi mulia ( disisi MU ), dan telah Engkau tetapkan atas mereka dengan kehilangan ( sesuatu ), sehingga mereka bisa menemukan ( ke Agungan MU ).

  • Yang dimaksud disini ( uraian ini ) dengan kehinaan adalah merendahkan diri dalam mencari ( kedekatan dengan ) Al Haqq ( ALLAH ) yang ditampakkan hal ( sikap menghinakan diri ) itu diantara para kawan setara, agar kamu matikan nafsu dengan cepat, lalu kamu bisa menghidupkan jiwa, dengan mengenal Al Haqq dan menyaksikan kebesaran NYA.

Dan hal ( sikap menghinakan diri ) itu ( dapat dipraktekan ) seperti berjalan dengan menunduk, membuka penutup kepala ditempat yang orang² dapat melihatnya, dan seperti meminta minta di toko² dan di pasar².
Maka hal² ini merupakan sikap menghinakan diri yang diiringi beroleh kemuliaan disisi ALLAH SWT, dan bisa hidup jiwa dengannya untuk menyaksikan keAgungan Tuhannya ( ALLAH ), dan dengannya bisa mengenal ALLAH dengan sebenar benar mengenalnya, yaitu mengenal langsung, bukan pengenalan ( dengan melalui ) dalil dan bukti².
Dan hanya kepada ALLAH pertolongan ( dimohonkan ).PM 48-49.

Dan ia mengenal ALLAH SWT bisa juga dengan tanwin ( penulisan ketetapan ).

  • Adakalanya berupa penetapan pemberian peluang, dan cara ALLAH SWT memberi peluang kepada seseorang untuk,
  1. Mencintai seorang Syekh yang sempurna lagi ma’rifat kepada ALLAH.
    Kemudian ALLAH memberi peluang kepada orang itu untuk,
  2. Melayani Syekh tersebut dan bergaul dengannya.
    Selanjutnya ALLAH memberi peluang kepada orang itu untuk,
  3. Menyaksikan keAgungan Al Haqq ( ALLAH ) dan ma’rifat kepada NYA.
  • Dan ada kalanya penulisan ketetapan berupa pengasingan, dengan ia merasa asing ( tidak mengenal ) terhadap semua manusia dan ia menyembunyikan diri dari mereka, hingga ia merasa nyaman dengan ALLAH.

Karena sungguh telah berkata sebagian kaum sufi mengenai perilaku orang yang telah masuk Thoriqoh bersama mereka : ” Merasa asinglah ( jangan merasa kenal ) kepada orang yang kamu kenal, dan jangan kamu berkenalan kepada orang yang belum kamu kenal “.

Dan dalam kitab Al Hikam ( disebutkan ) : ” Manakala kamu telah merasa terasing dari makhluk NYA, maka ketahuilah bahwa sanya DIA telah berkehendak agar DIA menyamankan diri mu ( bersama ) dengan NYA “.

Dan beliau ( Imam Ibnu Atho’illah ) juga berkata : ” Tidak ada yang berguna bagi hati sesuatupun yang setara dengan Uzlah ( sikap mengasingkan diri ), dimana seseorang bisa masuk dengan sebab Uzlah keareal perenungan “.

  • Dan adakalanya penulisan ketetapan penggantian, dengan cara ALLAH mengganti kondisi kaya dengan kondisi faqir, dan ( mengganti ) kondisi mulia dengan kondisi hina, dan ( mengganti ) pergaulan dengan Uzlah ( mengasingkan diri ), dan begitu pula ALLAH menukar hal² yang buruk dengan hal² kebalikannya.

Dan adakalanya penulisan ketetapan perimbangan, maka ALLAH mengimbangi kondisi mulia ketuhanan dengan kondisi hina kehambaan.

Nyalakan diri dengan sifatmu, niscaya ALLAH akan membantumu dengan sifat NYA dan kekuatan NYA.

Terapkan diri dengan kefakiranmu, niscaya ALLAH akan membantumu dengan kekayaan NYA.

Pastikan diri dengan kelemahanmu, niscaya ALLAH akan membantumu dengan daya NYA dan kekuatan NYA *.PM 49-50.

Dan kami ( Syekh Al Kauhaniy ) memiliki suatu syair ( selaras ) dengan pengertian ini :

Nyatakan diri dengan sifat kefakiran disetiap lirik mata, maka kamu akan sukses dengan kekayaan, dan hati akan merasa ramai dalam kesendirian.

Dan jika kamu sungguh menghendaki dibentangkan berbagai pemberian dengan segera, maka didalam kemiskinan, angin pemberian² itu berhembus.

Dan jika kamu sungguh menginginkan kemuliaan yang mengalir abadi, maka didalam hina yang bersembunyi kemuliaan, selanjutnya, bahkan kemuliaan akan tampak jelas.

Dan jika kamu benar² ingin mengangkat kedudukan mu dengan tinggi, maka didalam peletakan dirimu terhadap nafsu rendah yang selalu datang.

Dan jika kamu menginginkan ma’rifat, maka lenyapkanlah diri dari makhluk, dan dari segala hal yang dicari, selain Al Haqq ( ALLAH ) niscaya akan tampak kema’rifatan itu.

Kamu dapat melihat Al Haqq ( ALLAH ) disegala sesuatu saat semua berlemah lembut, karena disetiap yang wujud kekasihku ( ALLAH ) akan nampak.

Dan ALLAH juga mengimbangi berbagai sifat yang tercela dengan berbagai sifat yang terpuji, seperti sifat kikir ( diimbangi ) dengan sifat dermawan, dan sifat sombong ( diimbangi ) dengan sifat rendah hati, dan sifat dendam dan dengki ( diimbangi ) dengan sifat lapang dada, dan sifat gelisah dan mudah marah ( diimbangi ) dengan sifat tabah dan bersikap hati².

Dan begitu pula ALLAH mengimbangi berbagai perbuatan buruk dengan berbagai perbuatan baik dan mengimbangi penyakit dengan obat.PM 50-51.

《 Dan isim bisa dikenal juga dengan dimasuki alif dan lam 》

Hal itu merupakan isyarat kepada memasuki haribaan nan suci, karena sesungguhnya haribaan nan suci itu dikenal dikalangan orang² ma’rifat.

Dan mengetahui haribaan nan suci itu berdasarkan pemberitahuan ALLAH akan hal itu melalui lisan para Rasul dan para pengganti mereka.

Haribaan nan suci itu adalah tempat ( titik fokus ) penyaksian, dialog, tatap muka, dan penghadapan.

Dan memasuki haribaan kesucian itu bisa terwujud dengan merealisasikan hal² yang terdahulu dari berbagai tanda ( ma’rifat kepada ALLAH ).

Dan bisa dikenal juga Al Haqq ( ALLAH ) SWT yang merupakan Dzat yang diberi nama dengan berbagai nama, dengan huruf² khofadh, yakni dengan berbagai sebab khofadh ( merendah ),

Yaitu setiap sesuatu yang bisa merendahkan nafsu dan menurunkan nafsu itu ke tanah perendahan hati dan berbagai bentuk kerendahan lainnya sebagaimana uraian terdahulu, dan hanya ALLAH yang Maha Mengetahui.PM 51-52.

《 Maka ( huruf khofadh ) MIN ( dari ) 》 merupakan isyarat kepada permulaan perjalanan 《 dan ( huruf khofadh ) ILA ( ke ) 》 sebagai isyarat kepada batas akhirnya.

Maka seorang murid permulaan perjalanannya adalah memerangi ( hawa nafsu ) dan batas akhir perjalanannya adalah penyaksian ( keAgungan ALLAH ).

( Maka siapa saja yang bersinar dipermulaan perjalanannya, maka akan bersinaran batas akhir perjalanannya ).

Adapun bersinar dipermulaan adalah suatu karakter, semangat menyala nyala ( bergairah ), kerja keras dan kesungguhan dalam memerangi nafsu, dan menyemarakan waktu² ( dengan aktivitas ibadah ).

Sedangkan bersinar dipenghujung ( akhir ) adalah langgengnya menyaksikan Al Haqq ( ALLAH ) dan menetap diharibaan kesucian dan tempat kenyamanan ( bersama NYA ).PM 52.

  • Manusia itu ada tiga macam, yaitu :
  1. Kelompok orang yang merasa puas disatu derajat keimanan, dan tidak naik cita² mereka kepada mencari penyaksian secara langsung ( kepada ALLAH ).

Dan mereka itu tidak ada perjalanan ( penjelajahan ruhani ) pada diri mereka, maka mereka itu adalah golongan awam kaum muslimin. Dan

  1. Kelompok orang yang menggantungkan cita² mereka pada pencapaian ( hadirat ALLAH ) dan mereka memperkerjakan diri dengan sesuatu berupa ibadah lahiriyah, akan tetapi mereka tidak sukses meraih ( hasil ) didikan seorang Syekh ( Mursyid ), atau mereka tidak sanggup untuk bergaul dengan Syekh itu dan jiwa² mereka tidak toleran ( menolak ) untuk melucuti diri dan merobek berbagai kebiasaan.

Mereka itulah orang² sholeh lagi pelaku kebajikan, dan mereka juga termasuk golongan awam dari ahlul yamin ( orang² yang berkedudukan baik ).

Sama saja, adanya mereka itu dari para pelaku zuhud, para ahli ibadah, ataupun ulama yang luhur,

Karena sesungguhnya mereka, sekiranya mereka belum mengoyak berbagai kebiasaan nafsu² mereka, maka belum nyata perjalanan ( penjelajahan ruhani ) mereka itu.

( Seandainya tidak ada ajang² pertempuran nafsu², maka tidak akan nyata penjelajahan ruhani oleh para penjelajah,

Bagaimana bisa dirobek berbagai kebiasaan yang ada pada dirimu, sementara kamu belum merobek berbagai kebiasaan dari nafsumu ). Dan

  1. Kelompok orang yang meninggi cita² mereka menuju Wushul, dan mereka mendapat asuhan dari seorang Syekh ( Mursyid ), dan ALLAH SWT telah menguatkan mereka untuk bergaul dengan Syekh itu dan melayaninya.

Dan mereka telah melucuti diri dari berbagai kebiasaan mereka, maka bersinaran perjalanan mereka itu dengan memerangi dan menderitakan ( nafsu mereka ).

Dan bersinaran penghujung perjalanan mereka itu dengan kelanggengan penyaksian ( keMaha Sempurnaan ALLAH ).

Maka mereka itu termasuk kalangan istimewa diantara kalangan istimewa, dan merekalah orang² yang selalu mendekatkan diri, lagi orang² yang terdepan ( disisi ALLAH ).
Semoga ALLAH menjadikan kita tergolong orang² yang istimewa diantara mereka, Aamiin.PM 53-54.

《 Dan ( huruf khofadh ) AN ( menjauh dari ) 》 mengisyaratkan kepada hal melampaui ( menjauhi diri ) dari berbagai pengait dan berbagai penyibuk ( lalai terhadap ALLAH ), sebab tidak sah suatu penjelajahan ruhani yang disertai dengan ( masih adanya ) berbagai pengait dan berbagai penyibuk.

Adalah guru kami Syekh Al Buzaidiy RA mengatakan : ” Jika kalian inginkan, maka saya bisa bersumpah kepada kalian, bahwasanya tidak akan bisa memasuki alam malakut ( alam kerajaan besar ALLAH ), orang yang didalam hatinya terdapat suatu pengait ( hatinya ) “.

ALLAH SWT berfirman : ” Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sendiri² …( QS. 6 Al An’am : 94 ).

Yakni kalian datang kehadapan Kami ( ALLAH ) satu persatu ( bersendirian jauh ) dari berbagai pengait hati dan berbagai penyibuknya.

Dan ALLAH SWT berfirman : ” Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu. ( QS. 93 Ad Dhuha : 6 ),

Yakni kesendirian dari selain NYA, lalu ALLAH menempatkan mu ke hadirat NYA.

Dan seorang penyair berkata : ” Beruntunglah orang yang telah mengosongkan berbagai penyibuk dan kepada Tuhannya, ia menghadapkan diri.PM 54-55.

Dan ( huruf khofadh ) 《 ALA ( di atas ) 》 mengisyaratkan kepada menaikkan diri diatas nafsu dengan memaksa dan mengalahkan ( nafsu ), dan ( menaikan diri ) diatas penjelajahan ruhani dengan pertolongan dan perlindungan, dan ( menaika diri ) diatas petunjuk dengan pemberian peluang dan bantuan ( dari ALLAH ).

Mereka itulah yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhan mereka dan merekalah orang² yang beruntung. ( QS. 2 Al Baqarah : 5 / QS. 31 Lukaman : 5 ).PM 55.

Dan ( huruf khofadh ) 《 FI ( di dalam ) 》 mengisyaratkan kepada memasuki haribaan ( ALLAH ) dan menempatkan diri disana, dengan menempatkan diri yang diwadahi dalam suatu wadah, maka haribaan ALLAH itu menjadi tempat tinggalnya dan tempat bersarang hatinya, disanalah hatinya itu bersemayam dan menuju kesanalah hatinya berpulang.

Dan huruf FI mengisyaratkan kepada berpergian kedalam ( haribaan ) ALLAH.

ALLAH SWT berfirman dengan menceritakan kekasih NYA, Nabi Ibrohim AS : Dan Ibrohim berkata : ” sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepada ku. ( QS. 37 Ash Shoffat : 99 ).

Yakni kepada berpergian ke dalam haribaan NYA setelah kepergian diri menuju NYA, yaitulah menenggelamkan diri didalam lautan ke Esaan.

Maka berpergian menuju NYA adalah kondisi para penjelajah ruhani, sedangkan berpergian kedalam NYA adalah kondisi para pencapai ( haribaan ALLAH ).

Hanya karena Rahmat dan Pertolongan Allah lah semoga episode ini bisa berlanjut, Aamin.

WALLOHU A’LAM.PM 55-56.

WALLOHU A’LAM.
Bilbarokah wal karomah Syekh SAYID AL ARIF BILLAH MU’ALIF HADAL KITAB Al Fatihah.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Keranjang Belanja