Hikayat Santri, Kisah Yang Tak Pernah Habis Untuk Diceritakan

Sebuah Kisah Kehidupan Sederhana di Masa Modern

Banyak orang bilang manusia itu dilahirkan untuk membuat sebuah cerita. Born to make history katanya. Maka setiap kita pasti akan melahirkan berbagai macam cerita dalam hidup ini, pastinya cerita yang lahirpun berdasarkan kehidupan masing-masing yang ia jalani.

Lika liku kehidupan seseorang akan menemukan jalan sendiri bagaimana ia akan menjalaninya. Nah, irama kehidupan itulah yang akan menjadi sebuah cerita. Baik buruknya cerita yang lahir maka sangat tergantung pada bagaimana seseorang itu mengarungi jalan kehidupannya.

Nah, pada  kesempatan ini penulis ingin mengurai sedikit tentang hikayat (Baca : Cerita Santri)  santri di pesantren, khususnya pesantren yang bersistem boarding school.  Tentunya sebagai seorang santri pasti akan sangat berbeda kehidupan dengan siswa yang menempuh pendidikan dengan sekolah non boarding school.

Tidak sedikit dari pada anak usia sekolah SMP atau SMA yang enggan sekolah di pesantren saat ini . Kenapa ?  karena pesantren sebagian orang menganggap momok yang menakutkan dengan sistem dan displin yang berlaku. Ditambah lagi dengan kehidupan yang menurut mereka sedikit terkekang karena tidak bisa berkegiatan diluar pesantren.

Bagaimana sebenarnya di pesantren itu? Tentunya jawaban tersebut akan berbeda jika ditanyakan pada setiap individu santri. Kenapa bisa berbeda? Bukankah mereka mengikuti secara bersamaan setiap kegiatan di pesantren. Tentu. Tapi yang berbeda adalah ruhnya masing-masing yang berbeda pada setiap individu santri. Maka kembali ke paragraf pertama tadi, bagaimana seseorang itu menjalani kehidupannya.

Maka kenikmatan hidup di pesantren sangat tergantung pada ruh santri tersebut. Tapi jangan salah, tidak semua anak yang sudah masuk pesantren sudah memiliki ruh ma’hadinya (Baca : Ma’had (Arab) artinya; pesantren). Betah tidaknya seorang santri itu sangat bergantungan pada ruh ma’hadi tadi. Makanya kadang-kadang ada santri yang sudah menjalani kehidupan di pesantren selama satu, dua bulan tiba-tibah sudah tidak betah lagi, dan akhirnya minta pindah. Jangankan satu dua bulan, bahkan sudah menjalani kehidupan di pesantren selama lima tahun pun masih ada yang minta pindah karena hilangnya ruh tadi.

Bagaimana ruh ma’hadi itu tercipta?

Sebahagian pesantren, dominannya di awal tahun mereka akan mengadakan kegiatan Pekan Perkenalan atau lebih di kenal dengan kegiatan Khutbatul ‘Arsy. Kegiatan ini bertujuan untuk mengenalkan kembali nilai-nilai kepesantrenan kepada seluruh santri, tak terkecuali baik itu santri baru atau santri lama bahkan dengan dewan guru/pengurusnya pun wajib mengikutinya. Karena dalam kegiatan Pekan Perkenalan tersebut akan ada banyak hal yang akan diikuti oleh santri yang membuat santri tersebut menemukan nilai kepesantrenan bagi santri baru dan akan menghidupkan kembali nilai-nilai kepesantrenan  yang patah bagi santri lama. 

 Didalam Khutabatul ‘Arsy tersebut akan ada kegiatan Kuliah Umum. Kuliah umum ini berisikan penyampaian materi tentang kepesantren, sejarah, tujuan, visi misi hingga berbagai macam kegiatan dan disiplinnya. 

Salam Ukhuwah !

sumber : https://steemit.com/santri/@hikayatsantri/hikayat-santri-cerita-tak-pernah-habis-untuk-diceritakan

Keranjang Belanja